Ani Yudhoyono Sempat Membaik Sebelum Meninggal

Ani Yudhoyono Sempat Membaik Sebelum Meninggal

Ani Yudhoyono Sempat Membaik Sebelum Meninggal – Kematian Kristiani Herawati Yudhoyono atau yang biasa dipanggil Ani Yudhoyono memang menyisakan kesedihan mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia. Wanita yang telah menjadi Ibu Negara selama satu dekade menghembuskan nafas terakhirnya karena kanker darah yang dialaminya.

Pada Februari 2019, Ani dilarikan ke Rumah Sakit Universitas Nasional (NUH) untuk mendapatkan perawatan intensif untuk kanker darah yang ia alami. Awalnya proses perawatan berjalan sempurna dengan bantuan dokter spesialis.

Ani sering mengunggah perkembangan kesehatannya selama di rumah sakit. Pada beberapa kesempatan Ani juga terlihat lebih bugar. Dan seminggu sebelum pergi, istri keenam mantan presiden Republik Indonesia terlihat sehat.

Dia bahkan meninggalkan rumah sakit selama beberapa jam dan melakukan fotografi yang merupakan hobinya. Namun, beberapa hari sebelum kematiannya, Ani dikabarkan mengalami penurunan dan dilarikan ke ICU.

Tentu saja beberapa orang merasa aneh tentang peristiwa yang dialami info bola terbaru. Alasannya, dia terlihat sehat sebelum meninggal pada Sabtu 1 Juni 2019. Ternyata di dunia medis, kondisi ini disebut Terminal Lucidity.

Merangkum dari berbagai sumber, Terminal Lucidity secara harfiah disebut sebagai kejelasan sekarat. Namun, menurut seorang ahli biologi, Michael Nahm, Terminal Lucidity akan membuat orang menjadi tajam secara mental, tepat sebelum kematian.

“Munculnya kejernihan dan ketajaman mental pada pasien yang tidak sadar, gangguan kejiwaan, atau sangat lemah selama beberapa saat sebelum kematian,” jelas Michael.

Lebih jauh, gejala-gejala ini dikatakan mempengaruhi siapa saja dengan rentang hari, jam, atau menit sebelum akhirnya mati. Dilaporkan Terminal Kejelasan paling sering menyerang penyakit yang melibatkan otak.

Beberapa penyakit ini termasuk tumor otak, meningitis, trauma otak, stroke, skizofrenia dan Alzheimer. Namun, ini bukan tidak mungkin bagi pasien yang menderita penyakit kronis.

Sampai sekarang, tidak pasti bagaimana fenomena ini bisa terjadi. Namun, menurut sebuah penelitian, pasien yang menderita penyakit kronis, volume otak akan menyusut sedikit. Ini karena jaringan otak semakin lemah dan menyusut.

Akibatnya otak yang sebelumnya stres menjadi agak longgar. Gejala ini dianggap mampu mengembalikan berbagai fungsi otak yang rusak menjadi baik kembali. Beberapa dari mereka adalah kemampuan untuk mengingat dan kemampuan untuk berbicara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *